Archive for the ‘KISAH ISLAMI’ Category

BENARKAH HAFIDZ ITU BINASA KARENA CINTA?


+ Wek, sapaku di yahoo messenger, ketika kudapati ID sahabatku itu menyala kuning dan tersenyum, menunjukkan kalo dia lagi OL
+ Asslmkum
- Wa’alaikumussalam
+Oh ya lanjut pembicaraan kemarin, jadi di sini tuh banyak pondok pesantren. Dari pengamatanku….. bla bla bla aq bercerita, namun dari lawanku hanya jawaban ‘hm´ saja yang kudapat.
+ Hey, touyulz, kamu nyimak ga se? tulisku jengkel, tapi bukan marah, kami biasa ngomong gitu.
- Hey, bicara macam apa kamu? Seperti anak jalanan saja, omngan org yg ga berpendidikan, ga pantas seorang sarjana berbicara seperti itu, apalagi antum seorang muslimah
Daggggggggggggggggggggg…………..!!!!!!!!!!!


+ Hei, ni sapa? Ni bukan fia to? Aq kaget bukan kepalang dikatakan seperti itu. Fia ga pernah protes aku bicara itu. Bagi kami hal itu biasa sebagai guyonan, candaan.
- Ana teman fia di Mesir, jawab seberang.
+ Kurang sopan sekali kamu memakai ID fia,
- Tak, fia mengizinkan saya pake ID nya. Dy jg srg pke ID saya. Muslimah macam apa anti, kok bicara seperti itu. Tak pantas tau???
+ Hei
- Fia kok punya teman seperti antum, teman-teman fia ga da yang seperti anti, kasar…!
+ Hei, maaf ya ni hak saya, saya biasa bicara seperti ini dengan Fia, ini bagi kami sekedar joke…
- Tak pantas tau?
Aku diem. Ah, rasanya tak perlu aku mengadakan pembelaan. Tapi dia terlalu berlebihan dalam menilai kata-kataku. Padahal kalau dengan fia, kami biasa bercanda seperti ini.
Beberapa hari ini setiap ID fia bila kusapa tak jawab, berarti itu bukan fia.
+ Siapa orang Mesir itu ukh? Tanyaku ketika yang Ol bener-bener Fia.
- Kamu pernah chat dengannya?
+ Ya
- Bicara apa saja?
+ Jawab dulu siapa dia? Cewek atau cowok?
- Cowok, dia habibiku ukh..
+ Habibi?
- Ya, dia kekasih hatiku, dan insyaAllah dia pendamping hidupku kelak.
+ Weh? Kamu ga pernah cerita keberadaannya kepadaku
- Saat itu aku belum ada komitmen dengan dia ukh, jadi aku belum cerita sama kamu.
Hmm… akupun menceritakan kesan pertama pertemuanku dengan dia.
- Namanya Azam. Dia seorg hafidz ukh, kuliah s2 di Mesir
Weh, kekasih? Fia yang begitu alim, tertutup, dzikir yang tak pernah putus mengatakan bahwa dia mempunyai seorang kekasih. Berkomitmen dengan laki-laki yang belum diridlai Allah?

Beberapa hari kemudian ID fia teruz menyapaku,
- Salam ya ukhti, ana teman fia di Mesir
+ Wa’alaikumussalam. Afwan saya sibuk. Tulisku

Aku enggan meladeninya, entah kenapa sikapnya berubah kepadaku. Tapi aku tetap malas meladeninya. Ada sedikit sakit hati atas ucapannya dulu. Beberapa kali menyapa selalu aku jawab dengan alasan yang sama, sepertinya dia sadar kalo aku menghindarinya.

- Ukhti, tolonglah saya ingin bicara sebentar. Akhirnya dia bilang begitu.
- Fia sudah bercerita banyak soal ukhti. Bahwa ukhti tak seburuk yang ana fikir. Afwan ukh, ana telah salah menilai.
+ Beginilah saya akh, mungkin apa yang ada dalam pikiran antum dulu benar. Syukron dah diingatkan.
- Tidak ukh, ana yang terlalu cepat menilai ukhti hanya dari kesan pertama. Ana yakin ukhti tak seburuk yang ana kira. Afwan….
+ Tak apa akh, afwan saya sedang sibuk. Ah, aku masih tetap aja malas meladeninya…
- Ukh, anti mau kan memaafkan ana, ukhti maukan bersahabat dengan ana…?
+ Hmm….

Beberapa kali dia terus berusaha menyapa aku, bahkan dia meng-add ID YM aq dengan ID dia sendiri, awalnya aku gat au sehingga aku dengan polosnya meng-acceptnya.
-Ukhti sibuk apa se? tanyanya suatu hari
+ Saya sedang bikin blog
- Blog? Ukhti pandai ya
+ Biasa aja
- Ajarin ana ukh
+ Saya tuh biasa aja, bisa-bisaan, lha wong autodidak kok
- Tak pa, ajarin ana ukh…

Akhirnya kami beberapa kali chat.
- Ukh, pake voice ya? Biar enak ngajarin bikin blognya?
+ Voice?
- Na’am ukh… anti tau sendiri, kemarin saya tetp aja lom berhasil register, biar jelas arahan ukhti, pake voice ya?
Byuh, pake voice? Rawan syahwat nich…tapi aku tetap menurutinya. Begitu mendengar suaranya, subhanallah…merdu sekali suaranya, begitu fasih bahasa arabnya, pantaslah kalo dia seorang hafidz. Pantas saja Fia begitu jatuh cinta ma dia, mungkin saja kalau aku terlalu sering berkomunikasi dengan dia, aku juga bisa jatuh cinta ma dia. Astaghfirullah, ya Allah kuatkan benteng iman hamba…..

Beberapa hari kemudian fia mengabarkan bahwa ortunya tidak merestui hubungan mereka. Bahkan ortunya meminta dia menikah dengan laki-laki yang dari dulu mengejarnya dan sudah mengenal baik keluarganya. Berbagai macam cara digunakan ortunya agar fia bisa putus kontak dengan Azam. Ketika Azam nekat telpon ke rumah Fia, orang tua fia menceramahinya habis-habisan, memintanya untuk tidak menghubungi Fia lagi dan fia disuruh untuk ganti nomor hp. Karena tekanan orang tuanya, akhirnya fia bilang pada azam agar tidak menghubunginya lagi.
Di sisi lain, Azam juga banyak mengeluh padaku soal Fia. Dia bilang dia sering sakit-sakitan sekarang karena memikirkan hal ini. Dia memintaku membujuk ortunya fia agar merestui hubungan mereka. Aku berusaha menghibur keduanya sekuat tenaga.
Lagi-lagi aku dapat kabar dari Fia, bahwa khitbahan itu sudah terjadi. Memang kedua keluarga belum bertemu untuk memutuskan tanggal pernikahan itu, hanya laki-laki itu telah melamar Fia di depan ortunya, dan Fia maupun ortunya menerima lamaran itu.
Azam terus mengeluh, menceritakan tentang kesengsaraan hatinya karena cinta. Doa ketenangan hati selama 40 hari belum bisa sama sekali membuat hatinya tenang. Aku bilang semua telah terjadi. Ikhlaskan Fia, walaupun itu berat adanya. Bukankah berarti itu Allah tidak menakdirkan mereka berjodoh.
Aku berusaha menghiburnya dengan menyibukkan dia dengan kegiatan blogging. Aku ceritakan kepada dia tentang pengalamanku, tentang adikku yang kena penyakit leukemia dan kanker otak, tentang kehidupanku yang serba keras dan bahwa masih banyak orang yang kurang beruntung dari pada dia.
Kadang dia menyadari dan mulai tenang, namun kemudian dia mengeluh luar biasa tentang kesengsaraan hatinya.
- Ukh, ana dikasih kesempatan cuti tiga minggu oleh ustadz ana. Ana mau pulang ke Indonesia, langsung ke rumah fia
+ Ha?? Untuk apa akh?
- Ana mau menemui ortunya fia, menanyakan mengapa dia tidak merestui hubungan kami, sampai sekarang hati ana belum tenang. Dan ana sekalian mau mengkhitbah fia.
+ Hei, saya rasa itu bukan perbuatan yang bijak akh. Saat ini hidup fia dan keluarganya mulai tenang. Saya yakin alasan mereka juga yang terbaik untuk fia. Saya cukup mengenal keluarganya, dan mereka ga akan menjerumuskan fia. Afwan, bukan maksud saya bilang antum orang yang baik, mungkin ini sebagai petunjuk bahwa Allah tidak menakdirkan kalian berjodoh.
- Hati Ana ga tenang ukh…sebelum tau alasan mereka sebenarnya dan sebelum ana bisa mengkhitbah fia. Ana akan sangat berdosa kalo ana ga bisa memperistri fia, kami sudah berkomitmen untuk bersama dan ana sudah tau semua tentang fia, bahkan aib yang seharusnya tidak diketahui orang lain.
Astaghfirullah, sebegitu jauh hubungan mereka…???
+ Saya sarankan antum ga melakukan niat antum. Selain nanti akan mengganggu ketentraman keluarga fia, antum tau fia sudah dalam khitbahan laki-laki lain, antum tau sendiri bagaimana hokum menghitbah wanita yang dalam khitbahan orang lain kan???
- Ana yakin Fia terpaksa menerima khitbahan itu. Fia pasti tersiksa hatinya.
+ Terserah antum lah akh… saya rasa tak ada gunanya saya memberi saran kepada antum. Antum selalu mementahkan begitu saja setiap saran saya.
Aku jengkel sangat jengkel. Orang ini benar-benar keras kepala Sejak saat itu aku ga pernah meladeni azam, bahkan ID nya aku hapus dari list YM ku. Astaghfirullah, ampuni hamba telah memutus silaturahim ini….
Aku ga tau kabar azam selanjutnya hingga akhirnya sebulan kemudian akad nikah fia dengan laki-laki pilihan orang tuanya dilangsungkan, hanya akad tidak ada resepsi. Sepertinya azam tidak melaksanakan rencananya, buktinya fia dan keluarganya sepertinya gak ada masalah dan pernikahan ini gak ada kendala.
Namun seminggu kemudian fia mengabarkan kalau ia dapat kabar dari teman-teman azam di Mesir bahwa azam telah meninggal. Dia meninggal karena sakit yang berkepanjangan, Azam sakit dan tak punya semangat hidup hingga akhirnya ajal menjemputnya. Kata-kata fia penuh penyesalan, dia bilang teman-teman azam menyalahkan dia atas kematian azam. Azam meninggal karena sengsara, sengsara karena cinta. Innalillahi wa innaillaihi raji’un….
Aku tak habis fikir. Begitu dahsyatnya kah kekuatan cinta sehingga seorang hafidz macam Azam begitu sengsara sampai binasa hanya karena cinta? Rasa tak percaya masih menyelimuti hatiku. Benarkah sang hafidz benar-benar telah tiada dan apakah dia binasa karena cinta?
Jika kabar itu benar, Aku hanya berdoa semoga dosa-dosanya selama di dunia diampuni dan semua amal nya di terima Allah…
Jika kabar itu tidak benar, aku gak bisa menduga siapa yang menyebarkannya dan apa maksudnya menyebarkan berita itu. Huallahua’lam…

MBAK MURNI


Byuh, cintaaaaa cinta. Sampai sekarang aku gak habis ngerti, seberapa dahsyat se cinta itu? Cinta pada manusia maksudnya. Aku kadang merasa konyol dan tak habis fikir ketika mendengar ada orang bunuh diri gara-gara di tolak orang yang cintainya ato diputus orang yang dicintainya. Naudzubillah….. Juga ketika sahabat saya yang mengeluh karena cintanya kepada seorang laki-laki tidak mendapat restu dari orang tuanya. Dan pilus cinta ini telah melanda kakakku, Mbak Murni. Hanya saja menurut aku dan keluargaku, dia mencintai orang yang kurang tepat.


Mbak Murni memang beda dengan aku dan kakakku yang satunya. Bukannya bermaksud menghina, tapi secara tingkat intelektual, dia paling rendah di antara saudara-saudaranya, tapi ia mempunyai semangat mandiri paling besar dibanding dengan saudara-saudaranya. Mungkin karena itu dia tidak mempunyai semangat untuk menuntut ilmu sampai jenjang yang lebih tinggi, ia memilih bekerja dari pada sekolah. Ijazah D3 yang diterima itu saja berkat bujukan dan dorongan seluruh keluarga. Secara fisik, dia memang lebih cantik dan manis dari pada aku, tapi kulitku lebih putih dari dia, apalagi aku selalu menutupinya. Banyak cowok yang menyukainya. Soal pendidikan agama, dia paling kenyang dibandingkan aku dan kakakku yang satunya. Ketika SD, dia sudah ikut grup ngaji cikal bakal TPA di mana kemudian aku gabung, jadi ia mengenal dan bisa membaca AL-Qur’an jauh sebelum aku. Ketika SD ia sering diikutkan pondok pesantren kilat, tiap liburan. Sekolah SMA di skul yang ber-basic agama. Bahkan kerja pun dia di sebuah yayasan agama. Tapi entahlah ilmu agama yang di perolehnya seolah sama sekalli tidak merasuk ke dalam jiwanya.
Mbak Murni memang orang yang ramah atau orang jawa bilang ‘grapyak’, sehingga banyak orang menyukainya, baik dari golongan ekonomi atas, menengah maupun bawah. Semua orang seolah mencintainya.
Dan semua orang juga terkejut dengan keputusan Mbak Murni untuk menikah dengan Hadi, seorang pemuda yang gak jelas masa depannya, gak jelas martabatnya. Orang tuakupun sebenarnya sangat tidak setuju dan menentang keras hubungan itu. Ah, sebenarnya bukan hanya karena masa depannya yang gak jelas itu lah yang membuat keluargaku terutama ayahku gak setuju. Kami mengenal Hadi, bahkan sangat mengenal. Dia orang yang sering main ke rumah, kami kenal dia sebagai teman mas Anto, dan dia kenal mbak Murni juga biasa saja, gak terlalu dekat, itu yang kami tau. Dan kami, dibiarkan bergaul dengannya oleh orang tua kami, sebatas bergaul, tidak lebih. Orang tua sudah menganggap kami cukup dewasa dan mampu menjaga diri, sehingga memperbolehkan kami bergaul dengan sapa saja.
Hadi yang kami kenal, cowok luntang-luntung, seolah tidak punya cita-cita, seolah tidak mempunyai masa depan. Agama ‘nol’ itulah yang kami tau. Jangankan mengaji, untuk Sholat Fardlu saja, kami hampir tak pernah tau, seolah dia tak pernah melaksanakannya. Padahal harapan ayah, dia mendambakan seorang menantu yang baik secara agama, agar bisa membimbing anak keduanya itu agar semakin dekat dengan sang-Khalik. Soal pendidikan juga payah, yang aku tau dia hanya lulus SMP dan tidak melanjutkan sekolah. Soal kerjaan, ayah mempunyai beberapa usaha yang mungkin bisa di serahkan kepengurusananya kepada menantunya, jadi tak terlalu bermasalah.
Jujur, di antara sekian banyak teman-teman Mas Anto maupun Mbak Murni yang aku kenal, Hadilah orang yang paling tidak aku sukai. Tampan memang parasnya, tapi akhlaknya tidak senada dengan parasnya. Aku lebih suka Nurman yang secara fisik biasa, namun halus dan sopan orangnya serta ramah pada siapa saja ato yang lainnya.
“Nduk, lupakan Hadi. Cari laki-laki yang lain, yang lebih baik dari Hadi.” Bujuk ibu suatu hari.
“Tidak Bu, aku dan Hadi dah janji akan hidup bersama selamanya. Aku hanya mau menikah dengannya, Bu!” bantah Mbak Murni membuat ibu semakin terenyuh.
“Tapi apa nduk yang kamu harapkan dari Hadi?”
“Bu, kami dah saling suka. Aku sudah mengenalnya betul…”
“Namanya orang menikah itu tidak hanya modal cinta saja, Nduk…”
“Sudah Bu, pokoknya aku hanya mau menikah dengan Hadi. Selama ini aku ga pernah meminta macam-macam kepada bapak dan ibu. Hanya ini saja, tolong bapak ibu restui.”
“Tapi Nduk…”
“Sudah Bu, pokoknya aku hanya mau menikah dengan Hadi. Itu saja bu!” jawab mbak Murni sambil meninggalkan ibu masuk kamarnya.

“Tidak nduk, ibu tetap tidak setuju kalo kamu nikah dengan Hadi. Sampai kapanpun ibu gak akan ridlo.” ibu kokoh pada pendiriannya.
Sejak diketahuinya hubungan Mbak Murni dan Hadi, dan kekerasan kepala mbak Murno, Ibu jadi selalu memantau kegiatan mbak Murni. Ibu hanya mengizinkan mbak murni keluar untuk bekerja saja, itu pun ibu selalu memantau keberadaan mbak Murni. Ibu tak pernah mengizinkan mbak Murni ketemu dengan Hadi. Jika mbak Murni ketahuan pergi bertemu dengan Hadi, maka ayah, ibu, maupun mas anto tak segan-segan menyeret mbak Murni pulang, ya gak terlalu kasar lah, tapi maksa. Dan parahnya, gak ada pembelaan sama sekali dari Hadi. Dia hanya pasrah ketika mbak murni di bawa oleh keluargaku. Ibu juga menyita hp mbak Ningrum.
Aku mendukung keluargaku. Kalo aku pikir laki-laki macam apa Hadi itu. Kalo dia memang gentle dan berniat baik untuk menikahi mbak Murni, seharusnya dia datang baik-baik ke keluarga, melamar mbak Murni dengan resiko apapun. Tapi sama sekali tidak ada tindakan dari dia.
Sore itu Mbak Murni pergi melebihi jam biasanya. Di tempat kerjanya sudah tidak ada. Di rumah seorang teman yang biasanya menjadi tempat Mbak Murni main itu juga tidak ada. Di tunggu sampai malam juga gak datang-datang. Keluargaku panik bukan main. Kami seharian berbagi tugas mencari ke tempat-tempat biasanya Mbak murni berada, teman, saudara semua sudah di cari. Hasilnya nihil. Orang tuaku mencari ke rumah Hadi, dan Hadi hanya menunduk mengatakan kalau Mbak Murni gak ada. Keluarga ku tak bisa memaksa untuk menggeledah seluruh rumah Hadi. Kami masih mempunyai etika dan sopan santun, apalagi kami hidup dalam lingkungan pedesaan. Kami masih yakin bahwa mbak Murni memang sengaja kabur, beberapa pakaiannya sudah tidak ada. Dan kalo dipikir, mbak Murni gak akan sebodoh itu bersembunyi di rumah Hadi.
Besok siangnya Mbak Murni telepon rumah, mengabarkan dia baik-baik saja. Dia berada di suatu tempat yang sangat jauh dari rumah dan keluarga tidak usah mencarinya. Tapi keluarga tetap memintanya pulang, terus merayunya. Hingga mungkin mbak murni bosen dan menutup telepon tanpa pamit. Kami mengira-ngira di mana mbak Murni sekarang? Di mana dia meletakkan motornya yang biasa dia bawa kerja. Mungkin kalau ketemu bisa untuk petunjuk dimanakah Mbak Murni berada.
Besoknya Mbak Murni telepon lagi
“Pak, aku akan pulang jika bapak sudah mendaftarkan pernikahanku dengan Hadi di KUA.”
“Ya dah, bapak janji, pulanglah dulu, baru nanti bapak daftarkan. Keluarga sudah kangen nduk, pulanglah…!” jawab bapak waktu itu.
“Tidak bapak, pokoknya aku akan pulang pas di hari aku dinikahkan dengan Hadi.”
Mbak Murni memang keras kepala. Dan akhirnya demi menuruti putrinya yang satu ini, bapak benar-benar mendaftarkan pernikahan Mbak Murni dan Hadi.
Dah tepat di hari terjadwalnya pernikahan, Mbak Murni datang ke KUA dengan Hadi dan seluruh keluarga Hadi. Mbak Murni datang dengan make up dan kebaya, seolah semua sudah terencana baik-baik olehnya. Sementara dari pihak keluargaku hanya bapak dan paman yang mendampingi ayah, Mas Anto memilih tetap masuk kerja. Aku gak tau bagaimana keadaan ketika akad nikah itu terjadi. Aku hanya menebak penuh keharuan…..
Aku dan keluarga di rumah sibuk memasak untuk syukuran pernikahan mbak murni. Ah, pantaskah ini disebut syukuran???? Padahal saat itu hati Ibu remuk redam, bukan hanya ibu, tapi bapak, Mas Anto dan juga aku, dan mungkin juga orang-orang yang menyayangi Mbak Murni.
Sepulang dari KUA semua rombongan menuju ke rumahku. Bapak dan paman dalam mobil tersendiri, sedang Mbak Murni dan Hadi bersama rombongan keluarganya. Dapat ditebak, betapa harunya suasana saat itu, ketika rombongan itu datang. Aku dengar ibu menangis tersedu-sedu ketika Mbak Murni menyalami ibu dan mencium tangan ibu serta meminta doa restu dan maaf. Nenek yang sangat menyayangi cucu satunya ini juga menangis tersedu-sedu. Seluruh undangan yang mengetahui kejadian sebenarnya juga ikut menitikkan air mata, dan aku? Aku malah lari masuk kamar, menghempaskan tubuhku ke kasur. Aku menangis sejadi-jadinya. Jujur aku rindu berat pada Mbak Murni, tapi aku belum bisa menerima kenyataan ini sama sekali. Aku gak sekuat ibu yang mencoba tegar menghadapi masalah itu walau dengan tangis yang menderai, dan bapak yang begitu kuat menahan tangis saat itu. Padahal aku tau bahwa hati mereka remuk redam, aku tau beberapa hari sebelumnya mereka begitu bersedih, dan mereka hampir tak pernah terlihat makan.
Malamnya acara syukuran di laksanakan, syukuran itu sebagai sarana untuk mempublikasikan kepada masyarakat sekitar bahwa anak perempuan bapak, Mbak Murni sekarang telah sah menjadi istri Hadi. Tapi malam itu Mbak Murni dan Hadi tidak datang pada acara syukuran, entah apa sebabnya.
Ibu lebih banyak diam dan berusaha menahan tangis. Dan aku lemah tidak bisa menghiburnya. Bapak dan Mas Anto tampak begitu tegar ketika menghadapi tamu-tamu yang datang. Dalam hatiku penuh dengan beribu-ribu doa, untukku sendiri, keluargaku dan Mbak Murni.
Ya Allah, berilah kelapangan dan ketabahan hati hamba menerima segala kenyataan dan cobaan yang Engkau berikan. Ikhlaskan hamba menerima kenyataan ini walau pahit adanya. Bukakanlah pintu hati hamba untuk menerima Hadi sebagai bagian dari keluargaku. Jadikan ini pelajaran bagiku juga untuk semakin mendekatkan diri pada Mu ya Allah, mendasari hati hamba dengan cinta kepada-Mu, agar sedahsyatnya cinta dunia melanda, maka aku masih punya pegangan Engkau.
Ya Allah, berikanlah kekuatan kepada keluargaku. Berilah kelapangan kami menerima setiap cobaan yang melanda.
Ya Allah, berilah petunjuk dan bimbingan kedua mempelai, agar mereka semakin mendekat pada-Mu. Jadikanlah pernikahan mereka sebagai sarana perbaikan diri dan latihan tanggung jawab mereka. Jadikanlah keluarga mereka keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, menghasilkan keturunan yang shaleh dan shalehah yang kelak akan meringankan dosa mereka jika kelak mereka kembali ke Hadirat-Mu.
Amin.

LAKI-LAKI YANG DULU MENOLAKKU ITU SEKARANG JUSTRU MEMINANGKU


Aq hnya manusia lemah, yang begitu silap dengan keindahan duniawi. Begitu silau dengan Keindahan fisik, tanpa memperhatikan bagaimana dalamnya. Bertindak tanpa berfikir, dan akhirnya hanya penyesalan mendalamlah yang aku dapatkan.

Sebuah sms panjang masuk ke hp sony ericsson ku. Panjang, karena tidak ada kata-kata yang disingkat sama sekali. Dan sms itu tidak ada rangkaian sebelumnya. Nomor pengirimnya memang telah ter save dalam phonebook ku. Ananta. Nomor hp yang ah dah lama tidak pernah mengirim sms padanya, yah kalo aku ingat-ingat sekitar tiga bulanan. Aku membiarkannya, aku fikir dia salah kirim, mungkin sebentar lagi dia sms minta maaf kalo salah kirim. Dan ternyata dugaanku meleset! Sebuah sms masuk lagi.

Adakah kesempatan lagi aku untuk kembali dan mengulang lagi saat itu?

Lha kok masih lanjut smsnya? Sontak aku balas smsnya.

Aslmkum. Maaf mas, salah kirim ya? Mas td dua kali kirim sms ke saya.Smsku

Wa’alaikumsalam. Eh, maaf kalo mengganggu.
Hanya itu balasnya, tidak ada jawaban dari pertanyaanku. Aku memberanikan diri membalasnya lagi.

Maaf, kliatnnya mas da mslh ya?(mf hnya brtnya)

Ya seperti itulah. Oh ya, gmna kbrnya. Lama ya aq ga sms?

Alhamdulillah baik. :)

Ah, tiba-tiba ingatanku melayang pada tiga bulan yang lalu. Ketika saat itu Aisyah, sahabatku memperkenalkan seorang sepupunya padaku. Katanya kami serasi makanya dia ingin menjodohkan kami. Pertama dia berikan no hp ku pada cowok itu yang dikenalkan dengan nama Ananta. Karena posisi beda kota kami masih berkomunikasi lewat hp.

Aisy begitu semangat mempromosikan Ananta padaku, bahwa dia cowok yang berakhlak baik, pinter ngaji, dan mempunyai masa depan yang cerah. Dia tau bahwa sosok itu ‘aku banget’.

Awalnya cowok itu sms, formalitas mengajak kenalan kemudian iseng-iseng bertanya apa kegiatanku dan bla bla, basa basi. Beberapa kali dia sms sekedar membangunkan tidur, mengucapkan selamat pagi siang atau sore ato malam, mengingatkan sholat. Dan aku berusaha untuk mencegah sms itu berkelanjutan. Ah, aku takut terkena virus merah jambu. Aku bilang padanya, sebaiknya jangan terlalu sering sms.

Saat itu aku bilang bahwa Aku takut dia menyesal kalau tau bagaimana aku sebenarnya, bahwa aku bersahabat dengan aisy bukan berarti aku secantik aisy, tidak setertutup aisy dan tidak secerdas aisy. Dia bilang, dia tidak perduli.

Aku menginginkan kami bertemu langsung saja. Kalo memang Allah menjodohkan, maka saat itu juga pasti akan ada ketetapan hati untuk melamarku tanpa harus ada pedekate. Toh, dia pasti sudah mengenal bagaimana aku dari Aisy, dan aku cukup mengenal bagaimana dia lewat Aisy juga. Aku percaya Aisy akan bicara apa adanya.

Akhirnya ketika ada kesempatan kami bertemu. Jujur secara fisik dia lebih dari yang aku bayangkan. Apalagi sebelumnya Aisy kata wajahnya biasa. Ketika kami bertemupun dia memberi salam dengan menangkupkan tangan di depan dada. Kami ngobrol bertiga dengan Aisy. Aisy memberi kesempatan kami mengobrol tanpa meninggalkan kami. Kalo kami sama-sama diam, Aisy yang memancing pembicaraan. Kesan yang aku rasakan, dia tidak seasyik dalam sms. Kata hatiku mengatakan dia kecewa dengan keadaanku yang sebenarnya.

Setelah pertemuan itu, dia tidak menghubungiku sama sekali. Dan Aisy tidak pernah menyebutkan kembali nama Ananta di depanku. Seolah semua hanya angin lalu.
“Bagaimana pendapat ananta?” tanyaku suatu kali
“Afwan ukh, aku ga tau. Ananta belum menghubungiku sama sekali.”
Hanya itu, selanjutnya nama Ananta tenggelam begitu saja. Ada sedikit kecewa dalam hatiku, jujur ada sedikit harapan sebenarnya aku dengan sosok Ananta itu, itu juga tak lepas dari cerita-cerita tentang Ananta oleh Aisy. Terakhir aku dengar kabar dari Aisy bahwa Ananta sekarang tengah berta’aruf dengan seorang gadis tetangga desanya. Aisy berkali-kali minta maaf padaku soal kejadian itu. Aku bilang gak apa-apa, berarti kami memang tidak ditakdirkan jodoh oleh Allah.

Dan ketika di walimahan Aisy kami bertemu kembali. Jarak antara akad nikah dan resepsi adalah seminggu. Jadi otomatis akupun ke rumah Aisy dua kali, malah yang pas resepsinya aku harus nginep karena ikut bantu-bantu. Saat itulah aku kadang berinteraksi dengan Ananta, yang sebagai sepupu Aisy juga bantu-bantu. Dan tanpa sengaja akupun berkenalan dengan ibu Ananta yang ramah dan aku sangat menyukainya. Saking ramahnya aku bahkan sempat di ajak ke rumahnya waktu itu dengan alasan ada barang yang harus diambil dan aku yang mengantarkannya.
*
Ri, Q dngr kmrin ananta tdk mneruskan proses ta’arufnya dgn gadis ttangga desa itu. Pesan Aisy ketika kami chat di YM.

Oh ya, kenapa?

Ga tau aku. Dia bilng atinya bimbang terus, belum ada kematapan untuk bersama gadis itu. Dan ia kasihan, daripada ngambang ga jelas, maka ia pun menghentikan ta’arruf ini.

Owh

Ah rasanya gak da gunanya kalo ngomongin masalah Ananta. Dan kamipun terus ber chat ria dengan topik lain.

Aslmkum. Selamat pagi. Sms datang dari Ananta menyambut pagi di hari minggu

Wa’alaikumussalam. Met pagi mas.
Balasku

Bagaimana kabar eri?

Alhamdulillah baik, Mas ananta?

Alhamdulillah baik juga. Eri, bolehkah aku telpon Eri?

Ada apa mas? Ada yang pnting?

Ada yang ingin saya sampaikan. Tlong kalo memang tidak sdg sbuk, angkat telepon aku

Baiklah
Tak berapa lama kemudian dari hp ku berdentang lagu nasyid All for U nya Noor

“Ada apa mas?” sambut ku begitu mengangkatkan, tak perlu salam, bukannya di sms tadi dah salam?
“Eri, maaf kalo aku mengganggumu….” katanya diam, aku tak segera menyahut, namun dia tak kunjung mengeluarkan suara lagi.
“Ada apa mas?” kataku mengulangi pertanyaan tadi.
“Maafkan atas apa yang aku lakukan dulu…..” suara itu lirih, seolah menekankan bahwa penuh dengan kesungguhan. “Er…..”
“Eh Iya, tak apa mas…..eh yang mana mas?” ah kenapa aku jadi salah tingkah sendiri?
“Er, maukah kamu memberi kesempatan aku sekali lagi?”
“Maksudnya?”
“Maukah kamu menikah denganku?”
“Eh….mas….”
“Aku tau, kamu gak harus menjawabnya sekarang. Aku pikir bahwa sebaiknya aku secepatnya mengatakan. Aku akan memberimu kesempatan untuk menjawabnya, sampai kamu bener-bener siap menjawabnya.”
“Aku…”
“Saya serius ya ukhti….dengan ini saya, Ananta meminang Eri sebagai istri saya…” katanya tegas. “Syukron ya ukhti, saya akan menunggu jawaban ukhti. Assalamu’alaikum.”
Ah, rasanya belum percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Tapi laki-laki itu meyakinkanku. Hatiku tiba-tiba jadi bimbang. Bukannya dulu dia sempat berharap pada cowok itu? Ah andai saja lamarannya itu datangnya waktu itu tentu dia akan dengan tegas menerimanya.
Sekarang, ah semua malah semakin jauh dari kata ‘iya’. Dulu saja begitu melihat fisikku yang sesungguhnya dia tidak sudi lagi berkomunikasi denganku, bagaimana kalo suatu saat ada wanita yang jauh lebih sempurna dariku, akankah dia meninggalkanku? Dia juga dengan mudahnya memutuskan ta’aruf dengan gadis itu, apakah jika suatu saat dia merasa tak cocok denganku dia akan dengan mudahnya bilang pisah. Tiba-tiba muncul pertanyaan itu di kepalaku. Ah hatiku semakin bimbang. Satu-satuntya jalan adalah istikharah, meminta petunjuk kepada Allah.
Tapi, bukankah sekarang dia kembali padaku, bukankah itu bukti kalo dia lah jodohku, padahal dia sudah tau fisikku sebenarnya, Bukankah itu berarti dia benar-benar menerimaku apa adanya. Mungkin dulu memang kekhilafannya.
Setalah istiharah 3 malam berturut-turut, pikiranku jadi terbuka, mungkin ini suatu petunjuk dari Allah.

Asslmkum, af1 kalo ganggu. Mas sedang tidak sibukkan? Akhirnya aku beranikan diri sms.
Baru saja sms itu terkirim, ada telpon masuk di hpku.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam…ada apa dik?”
“Rasanya saya tak perlu berlama-lama memberikan keputusan saya.”
“Oh….bagaimana?” suara dari seberang terdengar lirih, seperti orang yang pasrah menunggu vonis pengadilan dibacakan.
“Jujur saya sempat bimbang Mas, namun kemudian Saya berfikir bahwa…saya tak ada alasan untuk menolak mas…..”
“Alhamdulillah….” seru seberang
“Saya tau orang bisa berubah, mungkin dulu kekhilafan Mas. Saya harap Mas bisa konsekuen dengan apa yang Mas katakan.”
“Insya Allah Er, aku akan berusaha menjaga apa yang telah aku ucapkan. Besok jam 8 aku dan kedua orang tuaku akan datang melamarmu.”
“Besok? Apa tidak terlalu tergesa-gesa Mas?”
“Tidak, saya sudah berfikir jauh-jauh hari.”
Dan benar, besoknya hanya telat 5 menit Ananta dan kedua orang tuanya sampai ke rumahku. Ananta bilang tadi sempat nyasar. Setelah mengatakan maksud dan tujuan keluarga Ananta dan aku bilang bersedia, Hari itu juga ditetapkan hari akad nikah aku dan Ananta yang akan dilakukan minggu depan, soal hari resepsi dibicarakan nanti, dengan keluarga besar kami. Tak apa-apalah menuruti apa kata orang-orang tua yang masih begitu memperhatikan hari baik, toh selama tidak melanggar syari’at Islam ga masyalah to? Sementara Aisy kaget tak percaya namun bahagia mendengar berita pernikahan kami.
Alhamdulilah, ya Allah berkahilah pernikahan ini, amin…….

Hari Pertama Ramadlan Kang Heri


Rombongan mahasiswa PPL (Program Pengalaman Lapangan) sampai di Magetan tidak secara bersama-sama. Aku entah yang ketiga atau keempat datangnya. Ada yang datang sendirian, ada yang rombongan. Ketidakbersamaan ini karena faktor letak rumah yang berbeda, ada yang asli magetan, ada aku yang Ponorogo, cuma sekitar 1 jam-an dari Magetan, tapi kebanyakan berangkat dari Surabaya, kota di mana kami menimba ilmu.


Aku berangkat dari rumah. Masing-masing personil rombongan PPL itu baru kenal kemarin pas upacara pelepasan mahasiswa PPL di lapangan gedung Rektorat.
Setelah aku datang dan menata semua barang-barangku di kamar kosku yang baru dan sempit yang kemudian baru aku sadari begitu pengap, Ada sms, dari namanya Ari, aku mengingat-ingat yang namanya Ari dari rombongan PPL ini. Hm… lupa. Di sms dia suruh aku keluar kos.
Ok, aq balas.
Oooo itu toh yang namanya Ari, eh dia ma cowok lain juga yang aku lupa sapa namanya.
Aq persilahkan masuk ke kos, sekalian ajang mengakrabkan diri juga. Kebetulan rombongan PPL yang satu kos ma aku ada enam. Kami pun mengobrol. Tapi ada yang aneh dengan cowok yang dibonceng Ari itu yang kemudian memperkenalkan diri dengan nama Heri. Dia keliahatan seperti orang linglung, tak mempunyai semangat yang ‘bergas’ seperti Ari. Rasanya kurang menyakinkan dia dari Jurusan Olah Raga.
Ari bercerita bahwa dia sedang kebingungan nyari tempat kos, kemarin dari Surabaya dia sudah memesan satu tempat kos, bapak kos itu bilang ‘OK’, tapi tadi ketika ia datang, pak kos itu malah menolak, alasannya kos itu adalah kos cewek, dan dia merasa gak enak dengan tetangga kalo dia menerima anak kos laki-laki. Konyol sekali tapi seperti itulah kejadiannya. Dan dia sementara menitipkan barang-barangnya padaku, sementara dia mencari tempat kos.
Sorenya dia mengabari kalo dia mendapat tempat kos, dan ternyata kosnya ini sangat dekat dengan kosku, cuma berjarak dua rumah, terpisah kebun belakang rumah. Wow, kami senang sekali.
Kemudian aku mendapat cerita tentang Heri dari Ari dan Andik, dua cowok sefakultas dengan Heri, bahwa Heri dulunya adalah pecandu berat narkoba, sekarangpun masih belum lepas sepenuhnya dari ketergantungan itu. Bahkan otaknya pun terkena akibat mengkonsumsi barang-barang terlarang itu, makanya dia tampak seperti orang linglung.
Udara di Magetan yang dingin membuatnya semakin mempunyai alasan untuk mengkonsumsi barang-barang terlarang itu, terutama alkohol. Teman-teman berusaha mengingatkannya, namun setiap kali teman-temannya menyinggung maslah kecanduannya, maka ia memilih menjauh dari mereka. Aku sendiri bingung menghadapinya.
Aku mencoba tidak menyinggung kebiasaan buruknya itu, ternyata dia asyik-asyik aja kalo bersamaku. Aku berusaha belajar dari kebersamaanku dengan teman-teman, bagaimana bersikap dengan Heri. Ah, sayang sekali. Sebenarnya Heri itu baik, mungkin karena fisik aku yang paling kecil dalam rombongan ini, dia menjadi menganggapku sebagai adik sendiri. Dia memanggilku ‘nduk’ yang artinya panggilan pada anak perempuan. Sebenarnya aku kurang suka dengan panggilan itu, tapi jika emang panggilan itu mempererat tali persaudaraan di antara kami, keegoisan harus disingkirkan. Kalo dia mau beli makan, dia selalu nawarin aku untuk dibelikan sekalian atau tidak, maunya menu apa, hampir selalu, kalau gak lewat sms ya datang ke kosan. Dia tidak pernah risih dengan cara berpakaianku yang selalu aku usahakan menutup aurat, sangat berbeda dengannya penampilannya yang gaul, celana sobek-sobek atau agak melorot kadang celana boxernya kelihatan. Sebagai balasannya aku panggil dia kank, yang artinya kakak laki-laki dalam bahasa jawa.
Kalo dibandingkan yang lain, Kang Herilah yang paling menghargaiku. Beberapa temanku menyebutku ‘sok suci’ karena aku agak menjaga jarak jika sedang ngumpul teman-teman sesama PPL, itu karena memang dalam Islam melarang adanya ikhtilat kan? Ah, sebenarnya aku dalam ngumpul itupun masih masuk golongan ikhtilat kok… Dan beberapa juga memanggilku ‘bu Ustadzah’, itu bukan sanjungan melainkan ke arah sindiran karena mereka menyebutkannya dengan nada sinis, hal itu karena aku yang hampir tak pernah menanggalkan kerudungku dan sering mengingatkan mereka bagaimana bersikap selama di Magetan ini apalagi kalo di hadapan siswa-siswa yang kita ajar. Aku selalu mengingatkan agar mereka jangan bawa kebiasaan pergaulan di Surabaya yang kurang baik, di mana mengumpat itu bukan hal yang tabu lagi (ah bukannya aku maksudkan kalau budaya Surabaya itu jelek, tapi harus kita semua akui, bahasa Jawa Surabaya kesannya kasar dari bahasa jawa asli) karena akan ditiru oleh siswa-siswa SMA yang masih yang kondisi psikisnya masih labil, apalagi anak kelas X yang masih menginjak usia remaja (mahasiswa PPL mayoritas mengajar anak kelas X).
Aku akui, tentang teori perkembangan anak dan materi pelajaran, mereka ahli, bahkan aku sering berguru kepada mereka. Tapi pendidikan umum tanpa diimbangi dengan pendidikan akhlak, maka akan tak terarah. Bisa saja ilmu yang kita tanam dengan harapan untuk dimanfaatkan demi kebaikan malah disalahgunakan. Naudzubillah…
Kembali ke Kang Heri, ketika asyik ngobrol dia berujar
“Huh Ningrum tuh, malam-malam sms Cuma nanyain aku ngapain, lagi di mana. Sapa dia, pacaku bukan, kakak bukan. Dia terlalu mencampuri urusanku, aku ga seneng ada orang terlalu mencampuri urusanku. Aku saja tak pernah mencampuri urusannya. Mau kemana kek, mau ngapain kek itu urusanku. Lha ebesku aja ga pernah mau tau urusanku.”
Astagfirullah, benarkah? Apakah ini alasan atau penyebab sampai Kang Heri memilih jalan yang salah….hingga terjerumus dalam lembah narkoba ini?
“Orang tuaku lho, wez ga ngurusi aku. Ebes terlalu asyik berdakwah ke sana ke sini, tapi anaknya ndiri ga pernah diurusi.”
Subhanallah, lagi-lagi aku terkejut bukan kepalang mendengar pengakuan Kang Heri. Jadi selama ini ayahnya justru seorang ahli dakwah?
“Ah kang, teman-teman kan mengingatkanmu itu berarti mereka perhatian sama kamu kan kang? Mereka pengin kamu berhenti mengkonsumsi barang-barang terlarang itu.”
“Kamu mau ikut-ikutan mereka, menasehatiku? Kamu pikir mudah? Aku dah kecemplung, terjerumus, sulit keluarnya. Ni saja masih mending aku dah gak kayak dulu.”
“Maaf Kang, hanya mengingatkan.”
Ah ternyata mengingatkan tipe orang seperti Heri tak semudah yang ada di TV, di mana umumnya dengan nasehat saja mereka para jungkies itu bisa sadar dan menghentikan kebiasaan mengkonsumsi narkobanya.
Semakin kita berusaha mengingatkan, semakin dia menjauh dari kita, maka akan semakin sulit kita menyadarkannya. Ah, harus punya trik nih, agar kata-kata kita masuk ke hatinya, dan mampu membuka mata hatinya.
Tapi aku bukanlah orang cerdas yang mudah mencari trik dengan hanya melihat keadaan. Aku hanya mampu diam dan menggelengkan kepala ketika Heri datang ke sekolah telat dengan mata merah dan bau alkohol merebak ke mana-mana. Untunglah Heri cukup lihai menyembunyikan itu dari guru-guru dan siswa-siswanya.
“Nduk, kamu malam ini ga ke mana-mana to?” Tanya Heri di suatu Ba’da Maghrib
“Ke mana lho? Aku kan jarang keluar kalo ga da rencana dengan teman-teman PPL lainnya.”
“Ya dah, sepeda motormu tak pinjem ya?”
“Mau ke mana kang?”
“Ke tempat Sambas, ni tadi aku ma Ari wes janji mau ke sana, eh sepedanya Ari ternyata kudu masuk bengkel, turun mesin.”
“Jangan sampe malam lho kang.”
“Kenapa?”
“Lha, kan sini jam 9 mentok jam setengah sepuluh gerbangnya dah tutup.”
“Ya nanti sepedanya tak inepin di kosku aja, besok pagi baru tak balikin.”
“Yakin aman to kang, lha wonk ga da parkirnya gitu…Kalo ada apa-apa tanggung jawab lho…” kata-kataku sebenarnya bukan bermaksud menakut-nakutinya, tapi sepeda motor itu juga amanah dari ortuku, aku harus menjaganya.
Keliatannya Heri membenarkan ucapanku,
“Baiklah, nanti ga pulang malem-malem.”
“OK, ni kunci motor ma STNK nya.”
“Seeep….”
Ah setidaknya ini jalan untuk sedikit mengerem kegiatan keluar malamnya Heri yang rawan menenggelamkan dia dalam dunianya ‘itu’. Semoga motor Ari tak kunjung selesai diperbaiki di bengkel, agar Heri sering pinjam motorku seperti tadi, lho????? He he….
Hari ini ada undangan hajatan dari sekolah, tradisi sekolah ini memang setiap ajaran baru diadakan doa bersama demi kesuksesan dan kelancaran penyelenggaraan pembelajaran ke depannya, itu yang aku dengar.
Kami datang menjelang maghrib, memang undangannya diharapkn datang sebelum maghrib, kita melaksanakan sholat Maghrib di mushola sekolah. Acara ini dihadiri oleh guru-guru, mahasiswa PPL dan pengurus OSIS. Tapi ketika masuk waktu Maghrib, pengurus OSIS satupun belum ada yang nongol. Guru-guru meminta salah seorang mahasiswa PPL untuk menjadi muadzin. Semua kelimpungan, gak ada yang mau (atau gak ada yang bisa ya?) dan mereka sepakat mengajukan Heri, entah apa alasan mereka, aku gak tau. Heri maju dengan ragu-ragu,
“Aku hampir lupa bacaan adzan…” ucapnya lirih,
“Sudah Kang, maju aja.” aku ngasih support.
“Nanti gimana kalo di tengah-tengah aku lupa???”
“Ya dah, nanti kalo lupa aku bisikin,”
“Lha gimana caranya?”
Fyuh, ni orang bener-bener lupa apa ga percaya diri ya???
“Ya dah, kamu nanti adzannya dekat dengan kelambu itu, aku ada di balik kelambu. Nanti kalo kamu lupa tak bisikin…”
“Bener ya?”
“OK!!!” kataku mantap.
Aku dengar suaranya ketika adzan bergetar, entah karena dia gugup demam panggung atau karena dia menghayati setiap lafadz-lafadz yang dibacanya. Yang jelas, ketika dia berhenti agak lama, aku membisikkan lafadz yang seharusnya dia baca, dan ia pun melanjutkan adzannya, entah karena mendengar suaraku atau dia ingat dengan sendirinya.
Setelah Kang Heri ‘sukses’ mengumandangkan adzan, kami pun melakukan kegiatan biasa. Membaca pujian-pujian kepada Allah, iqamah yang dilakukan Heri dan alhamdulillah ini lancar. Sholat maghrib berjamaah, ternyata setelah itu dilakukan sholat tasbih dan sholat taubat dan doa-doa sampai masuk isya’, dan adzan isya’ dikumandangkan oleh seorang pengurus OSIS yang telah datang.
Setelah sholat isya’ acara makan-makan. Prasmanan. Fyuh, namanya anak kos… ga sungkan-sungkan tuh imbuh….kesempatan…
Masa-masa PPL hampir selesai, setelah masa ini maka disambut dengan datangnya bulan Ramadlan. Dua hari menjelang tanggal 1 ramadlan, sebagian besar mahasiswa PPL sudah cabut dari Magetan. Tinggal aku, Heri dan Ari juga belum cabut.
“Waaaaah bingung nie, balik ke Surabaya pa pulang ke Brebes ya?” Tanya Heri.
“Waaah, kalo aku enaknya menghasikan tanggal 1 Ramadlan dengan keluarga, Kang.” Kataku
“Masalahnya… rumahku kan jauh, mana barang-barangku banyak lagi, dan itu semua barang aku bawa dari Surabaya.” Brebes memang perbatasan Jawa Tengah – Jawa Barat.
“Ya dah, pulang ke Surabaya aja. Ortu pasti ngerti kok, toh lusa sebenarnya kul dah masuk kan? Cuma mungkin emang ada dispensasi buat mahasiswa PPL.”
“Tapi…kalo aku pulang ke Surabaya, kemungkinan hari pertama puasa besok aku ga puasa…kalo hari pertama saja gak puasa maka hari-hari selanjutnya kemungkinan besar ga puasa sama sekali. Ah aku dah lama ga puasa…”
Astaghfirullah, aku hampir lupa, kondisi Heri memang sudah jauh dari agamanya.
“Kalo hari pertama Ramadlan di rumah aku pasti puasa, dan kemungkinan hari selanjutnyapun puasa, gak tau apa bolong-bolong pa penuh. Maklum Surabaya kan panas, banyak godaan lagi dari teman-teman, jarang yang ngingetin lagi.”
“Ya dah, kamu pulang ke rumah Brebes aja, Kang.”
“Tapi barang-barangku banyak sekali, aku kerepotan kalo harus bawa ke Brebes, nanti habis dari Brebes dibawa ke Surabaya lagi, fiuh gak mungkin lah…”
Otakku berputar, apa akal? Aha…. Aku jadi ingat sesuatu…
“Ya wes, sebagian barangmu titipin ke aku aja Kank. Aku kan nanti dijemput ma masku naek mobil, besok aku berangkat ke Surabaya naek travel. Barangku gak terlalu banyak kok, masih muat kalo ditambah.”
“Beneeeer? Tapi banyak lho Nduk. Gitar, hitter, kado yang rencana mau aku kasih ke Bu Pras ga jadi, dan beberapa bajuku.”
“Hmmm…. Ga masalah, masih muat kok insyaAllah…”
“Ya tah,?”
“Hu uh. Tapi janji lho pulang ke Brebes.”
“Seeep.”
Begitulah. Ternyata barang-barang kang Heri memang banyak, selain yang dititipkan kepadaku masih ada beberapa tas lagi. Aku hanya menatap heran, kok barangnya sebanyak itu. Aku saja tidak sebanyak itu…
Malam pertama Ramadlan jam 2.30 aku miscall nomor hp Heri sampe diangkat, kemudian aku tutup. Cukup menunjukkan kalo dia terbangun. Rencana mau sms tapi dia sms dulu.

Aq dah bgun nduk, ni lgi sahur ma klrga. insy nnti puasa.

Amien kank, smoga nnti dan sterusnya di bln ramadlan ni n ramadlan slanjutnya km berpuasa.

Tak ada balasan
Amien. Kataku sendiri..
Semoga Allah membukakan pintu hati Heri untuk kembali pada Nya. Amien…

MENDAMBAKAN SEORANG IKHWAN


“Kapan nikah Mbak?” lagi-lagi Afif, adik angkatku itu menggodaku dengan pertanyaan itu. Ya ya, dia mempunyai seorang kakak kandung cewek yang seusiaku namun sudah menikah dan sekarang sudah dikarunia seorang putra yang lucu. Pantas dia sering menggodaku dengan pertanyaan itu.
“Doain secepatnya Fif. Sebenarnya pengin juga segera menuhin sunnah Rasul ini.”
“Kata Mbak Ria, nikah itu enak lho Mbak….” kata Afif lagi, Ria adalah nama kakak kandungnya.
“Ya ya ya,….”
“Huahahaha…Mbak Eri pengin tuh…Jadi ngebet tuh…”
Aku hanya menjulurkan lidah saja ke dia. Dia ketawa menggodaku.
“Yah, doain aja ma Mas itu jadi ya? Hehehe…”
Aku pernah cerita ma Afif kalo ada seorang cowok kakak kelasku dulu yang sering menghubungiku.
“Amien.” Doa Afif tampak tulus dalam hati.


Namun sebelum Ramadlan datang, telah tiba suatu kabar yang membuat hatiku nyeri. Cowok yang aku harapkan dan membuat harapanku melambung tinggi itu memberi kabar kalau dirinya akan bersanding dengan wanita lain, seorang akhwat begitu dia bilang dengan bangganya. InsyaAllah habis Lebaran pernikahan sederhana akan digelar, katanya.
Seorang akhwat? Hmmmm tentu saja aku kalah jauh, aku aja masih hancur gini…batinku. Tidak salah memang dia memilih, tapi kenapa dulu ia begitu baik padaku? Kenapa ia sering menghubungiku? Hanya menganggap adikkah? Pantaskah? Apa aku begitu bodoh menyalahartikan kebaikannya padaku selama ini? Dia bukan apa-apaku, dia bukan kakak, bukan bapakku bukan saudaraku tapi dia memberi pehatiannya padaku, siapa wanita yang harapannya tidak melambung diperlakukan seperti itu?
Namun kemudian dia tanpa beban mengatakan bahwa dia memilih wanita lain untuk bersanding dengannya…..
Aku lemas seketika mendengar kabar itu. Dan Lagi-lagi Afif yang setia menemani dan menghiburku di Surabaya ini.
“Sudahlah Mbak. Hikmah yang bisa diambil simple aja toh mbak, bahwa mas Iman bukan jodoh mbak.”
“Ya, tapi perhatiannya itu selama ini….”
“Sssst sudah, itulah cobaan bagi orang beriman. Cinta adalah godaan Mbak, tinggal bagaimana kita menyingkapinya. Apalagi kalo cinta tidak berpihak pada kita. ”
Aku terdiam, ah Afif begitu bijaksana. Mungkin memang pergaulannya yang membuatnya bisa bicara seperti ini, entahlah kalau dia yang mengalami sendiri apakah dia akan bersikap seperti apa yang diucapkan atau tidak (ah, semoga dia tidak pernah mengalaminya). Tapi apa yang dikatakan itu bener dan tak ada salahnya aku renungi.
“Mbak kudu tabah, come on, sekalian untuk menguji mental mbak kok ni. Buktikan lek mbak ni gak lemah…Mosok Mbak Eri yang aku kenal lincah, cerewet, pejuang selama ini keok…” kata Afif sambil membalikkan jempol tangannya ke arah bawah.
“Jelek lu.” Aku memukul lembut kepalanya, tapi dia menghindar
“Ih Mbah Eri yang jelek weksss.” Dia menjulurkan lidah seperti biasa.
Ah, setidaknya ada Afif, yang bisa membuatku mampu tersenyum dan tertawa lagi, dia gak akan membiarkan aku sedih, apalagi jika berkepanjangan.

“Eh Mbak, masih banyak kok cowok yang juauh lebih baik dari Mas Iman.”
“Yayaya, aku tau…”
Aku seperti teringat sesuatu.
“Eh Fif, Cariin aku ikhwan aktivis temenmu duonk….”
“Lha?”
“Temen-temenmu dulu di Madiun kan banyak ikhwan aktivis, kenalin satu aja ke aku.” kataku serius, Afif tau itu. Hanya saja dia gak nyangka aku bakal meminta itu padanya. Dan ia kelabakan menjawabnya…
“Kalo itu…sulit mbak. Kalo ma senior aku ga banyak kenal dekat, paling kakak sepupuku, itupun sudah nikah…tapi….”
“Kenapa?”
“Biasanya para aktivis itu akan mencari akhwat sesama aktivis. Mereka dah ada Murabbi nya sendiri mbak.”
“Owh, jadi ga mungkin ya?” kataku lirih..
“Ato mbak ikut aja kegiatan mereka, mengikuti kajian-kajian mereka.”
“Aku mengikuti kegiatan mereka untuk memperoleh seorang ikhwan? Ah, muna itu namanya Fif.”
“Bukan Mbak, itu sebagai Sarana untuk perbaikan diri Mbak. Alhamdulillah kalo Allah benar-benar memberikan seorang Ikhwan untuk menjadi suami Mbak. Yang penting sekarang perbaikan diri Mbak dulu. Meningkatkan kualitas diri dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah melalui kegiatan-kegiatan itu.”
Aku memandang takjub pada Afif. Ah, Remaja ini kadang pola pikirnya lebih dewasa dari umurnya, lebih dewasa dari aku yang lebih tua hampir lima tahun dari dia. Kalo saja dia lebih tua dari aku atau sudah siap menikah aku minta dia untuk menikahiku, hehehe…
“Tapi itulah Fif, aku ini orang yang sangat lemah. Kalo gak ada yang ngajak ke arah kebaikan itu jarang mau melakukannya. Aku masih rentan dengan godaan duniawi.”
“Mbak ikut aja kajian-kajian di kampus kan ada?”
“Aku sekarang jarang ke kampus, soalnya kan tinggal wisuda.”
“Eh Mbak minat bener tah ikut kajian-kajian tadi?”
“Boleh-boleh.”
“Bukan Cuma karena agar mendapatkan calon suami ikhwan to?”
“Hmmmm, insyaAllah mbak niatkan memperbaiki kualitas diri.”
“Amin. Kakak sepupuku mempunyai link-link orang-orang yang mengurusi kajian-kajian seperti itu. Kalo mbak mau insyaAllah aku telpon masku, nanti biar masku itu bisa ngasih semacam surat rekomendasi atau surat pemberitahuan ke mereka bahwa ada member baru, biar mbak nanti ga merasa asing ketika pertama ikut kajian-kajian itu. InsyaAllah mereka welcome kok ma new member, bahkan mereka akan membimbing dan memberi tahu apa yang mbak belum tahu dengan senang hati.”
“Tapi aku gak tau setelah lulus nanti bertahan di Surabaya atau pulang ke kampung halaman.”
“Gampang, masku punya link di mana-mana kok…”
Aku tersenyum, “Sip.”

Namun kemudian Afif mulai masuk kuliah, dia mulai sibuk dengan tugas-tugasnya, kami jadi jarang berhubungan. Awal masuk dia masih sempat main ke kosku,
“Maaf mbak, lom sempat ngubungin kakakku, lagi sibuk nih aku. Masak hari pertama masuk kul dah dikasih tugas….”
Hanya itu. Kunjungan yang singkat sehingga kami hanya sempat ngobrol dikit dan dengan alasan mengeerjakan tugas dia pamit. Sejak itu Afif jadi jarang sekali bertemu dengan aku, tapi masih kadang telepon atau sms.
Dan semakin lama, aku kehilangan sosok Afif. Kudengar kabar terakhir dia kerja sosial di sebuah yayasan sosial mengajar anak nelayan, selain itu dia juga kerja sampingan, dan dia menghilang. Pun saat wisudaku dia tidak bisa datang dengan alas an karena semalam mengerjakan tugas dan siangnya ada kuliah. Aku berusaha mengerti keadaannya ditambah dengan fisiknya yang lemah.
*
Malam itu habis Lebaran dua hari menjelang wisudaku, seorang temanku seperjuangan masa PPL (praktek mengajar) dulu memberi tahu bahwa ada acara ngumpul reunion sekaligus perpisahan teman-teman PPL di Surabaya. Maklum satu semester lebih kami gak ngumpul dan sebentar lagi sebagian dari kami akan wisuda, yang entah selanjutnya akan kembali ke kampong halaman atau bertahan di Surabaya.
Di sana kami ngumpul lagi, 18 orang dulu teman seperjuangan dari berbagai jurusan dan berbagai fakultas. 10 cewek dan 8 cowok. Aku banyak ngobrol dengan Agnes, gadis paling cantik dari kelompok ini:
“Gimana kabar Afif?”
“Wah, dia sibuk ma Kuliahnya, kami jarang ketemu sekarang.”
“Wo…, salam aja kalo ketemu dia.”
“InsyaAllah aku sampaikan.”
“Eh, kamu masih inget Pak Iman salah seorang guru di SMADA dulu?”
“Hm???” aku mencoba mengingat-ingat
“Yang dulu promosiin saudaranya yang lagi cari calon istri.”
“Owh.”
Aku jadi inget, ketika PPL di SMADA dulu, ada seorang Guru laki-laki bernama Pak Imam mengatakan bahwa dia memiliki seorang saudara laki-laki di Madiun. Dia seorang ikhwan aktivis, baik agamanya. Dia sedang mencari seorang calon istri, yang sholehah atau bisa diajak ke arah kebaikan, sabar dan pengertian. Beliau meminta biodata beserta foto-foto para mahasiswi PPL. Kata beliau akan disampaikan kepada saudaranya, siapa tau ada yang dia minati. Hm…bukannya orang seperti ini yang aku cari, hik hik…
Namun besoknya beliau tidak pernah membahas itu lagi, apa yang dikatakan beliau kemarin seakan hilang tanpa bekas terbawa angin. Ah, aku mah gak terlalu mikirin. Aku mungkin gak akan ingat kejadian itu kalo Agnes tidak mengatakannya.
“Emangnya napa ma beliau?”
“Ya ga pa-pa ma beliau. Aku dulu lom cerita ya? Beliau minta foto ma biodataku buat adiknya yang ikhwan itu. Aku ga enak, ya wez aku kasih. Cowok itu kemudian menghubungiku, sms maupun telpon. Sampe sekarang.”
“Owh….”
“Kamu dah ketemu orangnya?”
“Belum, dia-nya masih sibuk kerja, akunya juga ngerjain skripsi kan? Lagi pula aku sebenarnya lebih berat ke Nanang.”
Nanang itu cowok Agnes.
“Selama ini aku jarang balas smsnya. Aku jarang menghubunginya, tapi dia yang menghubungiku, sekedar tanyain kabar, ngingetin Sholat, sahur.”
“Weh????” ekspresiku dengan nada kagum, tiba-tiba ada iri menyelinap di hati.
“Kamu mau tah tak kenalin ke dia, bukannya kamu mencari orang seperti itu? Aku lihat dia baik Er, cocok seperti yang kamu cari.”
“Ah, kmu ni ada-ada saja Nes.”
“Aku serius, kamu mau tah? Tak kasih tau no kamu ke dia ya?”
“Ga usah, makasih. Dia menginginkanmu Nes, ‘perantara’nya juga menginginkan menghubungkan dia dengan kamu, bukan dengan aku.”
“Tapi aku dah ada Nanang, Yan. Dia sayang ma aku, begitupun aku. Kami dah jalan lama, dan aku ga ingin hubungan ini rusak gara-gara ada dia. Dia dah tak kasih tau kalo aku punya pacar, tapi masih saja menghubungiku.”
“Kamu dah dewasa kok Nes, wez bisa berfikir untuk menentukan sikap. Hanya, menurutku kamu sangat beruntung ada seorang ikhwan yang menginginkanmu. Sebenarnya kalo kamu bisa melihat ke depan, insyaAllah dia akan membawa kebaikan padamu.”
“Masa depanku dengan Nanang, Er.” Agnes tak mau kalah.
Ah Ukh, kalo aku jadi kamu, aku akan menerima dengan tangan terbuka kedatangan Sang Ikhwan.
Entahlah, apakah kelak aku mendapatkan seorang ikhwan yang aku inginkan. Apakah akan ada seorang ikhwan yang mau berdakwah untuk membimbingku menuju ridla-Mu, huAllahua’lam…. Aku hanya menjalani hidup apa adanya, berusaha memperbaiki diri walo usaha ini rasanya begitu lambat berjalan tanpa ada seorang yang menuntunku, karena aku begitu lemah…

Rma Onyel | Buat Lencana Anda
Maaf tidak konfirm laki-laki ga kenal...