PACARAN DALAM KACAMATA ISLAM
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu
Agak miris melihat kenyataan yang ada pada jaman sekarang. Di mana zina ada di mana-mana, baik yang kecil maupun yang besar.
Berpacaran seolah suda menjadi tradisi, menjadi kebiasaan, menjadi kebutuhan. Tidak berpacaran dianggap tabu dan menjadi aib. Pandangan “anak muda tidak berpacaran = tidak laku” menjadi momok. Dan ada yang membuat alasan lebih logis, pacaran dikatakan sebagai wahana penjajakan terhadap calon pendamping.
TV-TV ramai menyajikan hiburan-hiburan tentang perzinahan, mulai dari yang pacaran sampai seks bebas secara vulgar, tentang perzinahan yang dibumbui masalah agama, dengan maksud menunjukkan kalau zina itu haram. Tapi bukannya yang diharamkan itu yang merasuk ke dalam hati para penonton, tapi adegan perzinahan yang disajikan secara vulgar. Lagu-lagu tentang percintaan dengan cepat meresap dan dihafal. Pantas saja ada beberapa golongan yang mengharamkan TV, karena lebih banyak mudharatnya (keburukannya) dari pada manfaatnya.
Pacaran dalam kaca mata Islam.
Pacaran hanyalah istilah yang dibuatkan untuk melegalkan hubungan dua orang lawan jenis yang bukan mahramnya. Pacaran tidak ada keresmian, secara hukum Negara maupun hukum Agama. Jadi pacaran tidak ada aturan yang mengikat atau hukum yang mengikat antara keduanya. Kapan saja, di mana saja pasangan bisa berpisah tanpa beban dan tanpa aturan.
Dua Insan yang sedang pacaran dilegalkan untuk saling berpandangan, saling bersentuhan dan lebih jauh berciuman (na’udzubillahimindzalika). Padahal Islam agama yang notabene dianut oleh 90 % penduduk Indonesia, mengajarkan gadhul Bashar (menjaga pandangan) dan melarang umatnya mendekati zina.

dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. (Al Israa : 32)
Dan Rasulullah telah mengatakan dalam satu haditsnya :
(كتب على ابن آدم نصيبه من الزنا فهو مدرك ذلك لا محالة: العينان زناهما النظر والرجل زناهما الخطى ، والقلب يهوى ويتمنى، ويصدق ذلك الفرج أو يكذبه ) رواه البخاري ومسلم وأبو داود والنسائي
Dari Abi Hurairah ra. dari Nabi saw. bahwa Beliau bersabda: “Telah ditulis atas anak adam nashibnya (bagiannya) dari zina, maka dia pasti menemuinya, zina kedua matanya adalah memandang, zina kakinya adalah melangkah, zina hatinya adalah berharap dan berangan-angan, dan dibenarkan yang demikian oleh farjinya atau didustakan,” (H.R. Bukhori, Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i).
Pacaran dilihat dari sifat-sifatnya mendekati zina, bahkan merupakan zina itu sendiri. Dan itu artinya pacaran adalah sesuatu yang diharamkan.
Kemudian entah dengan tujuan apa, beberapa pihak mengislamkan hubungan itu dengan istilah “Pacaran Islami”. Berpacaran dengan cara-cara Islami, waaaaaaaaaah gaswattttt….Dalam pacaran Islami, laki-laki dan perempuan jarang bahkan hampir tidak pernah ketemu, apalagi samling memandang, saling bersentuhan. Mereka hanya berhubungan via surat, atau kalau jaman sekarang sms/ telepon, lebih modern lagi via e-mail atau chat. Dalam komuniakasi itupun tidak berisi kata-kata mesra layaknya orang-orang berpacran, tapi mengingatkan soal ibadah, soal kebaikan, tausyiyah, dan mutiara-mutiara kata Islami. Jadi dengan begitu zina bisa dihindari.
Tapi bagaimana dengan hati? Apakah hati tidak perlu dijaga? Bukankah segala bentuk perbuatan niatnya dari hati. Walau mata tak pernah memandang (paling yang dilihat potona), kulit tak pernah bersentuhan, bagaimana dengan hati? Ketika untaian kata-kata mutiara, tausyiyah dari sms, e-mail diterima, apakah isinya yang merasuk hati? Hoho…pasti wajah pengirimnya yang berkelebat di kepala dan berkesan di hati. Virus merah jambu langsung menyerang tanpa kita sadari dan akan semakin parah jika tidak segera kita beri vaksin keimanan. Tidur tidak nyenyak (ya eyalah banyak nyamuk), makan tak enak (lagi sariawan kale), pikiran tak tenang (takut ketahuan kalau lagi naksir). Alhasil ibadahpun tak tenang. Kagak percaya? Don’t try this at home.
Lalu bagaimana cara menjajaki calon pendamping kita? Bukankah perlu selektif dalam memilih pasangan? Hei, bukankah Islam mengenalkan kita pada konsep ta’aruf? Ta’aruf syar’ie (yang sesuai syariat) pengganti pacaran. Ta’aruf yang syar’i melalui aturan yang benar, jangan Cuma istilahnya aja ta’aruf tapi implementasinya tak jauh beda ma pacaran.
Satu hal yang penting dalam menapaki jalan menuju rumah tangga. Ketika niatan menikah itu adalah ibadah lillahi ta’ala, Insya Allah akan diberi kemudian dalam menjalani bahtera rumah tangga nantinya. Aamiin…
Dan yakinlah bahwa apa yang diharamkan oleh Islam itu demi kebaikan dan keselamatan manusia itu sendiri.
Jazakumullah khairan katsir
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu




Wah,artikel yang bagus. Sudah lama saya mencari artikel seperti ini.
kalau pas pacaran saya murtad buk, abis itu masuk islam lagi, hag astaghfirullah
artikelnya bagus banget. memang, semakin jaman berkembang semakin sulit jadi pintar sebenarnya… terutama mengenai kepintaran hati.
salam kenal